Bahasa Indonesia di Era Media Sosial: Antara Kreatif dan Salah Kaprah


Media sosial telah menjadi ruang utama komunikasi masyarakat Indonesia, terutama generasi muda. Instagram, TikTok, X, WhatsApp, hingga YouTube bukan hanya tempat berbagi informasi, tetapi juga arena ekspresi bahasa. Di sinilah Bahasa Indonesia mengalami dinamika yang sangat cepat—menjadi lebih kreatif, tetapi sekaligus rawan disalahgunakan.

Kreativitas Bahasa di Media Sosial

Salah satu dampak positif media sosial adalah lahirnya kreativitas berbahasa. Pengguna bebas bermain diksi, memendekkan kata, menciptakan istilah baru, hingga memadukan bahasa Indonesia dengan bahasa daerah atau bahasa asing. Kata-kata seperti healing, gas, relate, spill, atau auto menjadi bagian dari percakapan sehari-hari.

Fenomena ini menunjukkan bahwa Bahasa Indonesia bersifat hidup dan adaptif. Bahasa tidak lagi kaku, tetapi mampu mengikuti perkembangan zaman dan kebutuhan komunikasi yang cepat serta ringkas.

Salah Kaprah yang Kian Meluas

Namun, di balik kreativitas tersebut, muncul persoalan serius: kesalahan berbahasa yang dianggap wajar. Kesalahan penggunaan imbuhan, penulisan kata depan di dan ke, pencampuran bahasa tanpa konteks, hingga pengabaian struktur kalimat yang benar semakin sering ditemukan.

Masalahnya bukan pada penggunaan bahasa santai itu sendiri, melainkan ketika kebiasaan di media sosial terbawa ke ranah formal seperti tugas sekolah, artikel ilmiah, surat resmi, bahkan pemberitaan. Jika dibiarkan, hal ini dapat menurunkan kesadaran berbahasa yang baik dan benar.

Pergeseran Fungsi Bahasa Indonesia

Di media sosial, Bahasa Indonesia sering kali berfungsi sebagai alat keakraban, bukan ketepatan. Pesan dianggap berhasil jika dipahami, bukan jika sesuai kaidah. Akibatnya, standar kebahasaan perlahan bergeser: yang populer dianggap benar, yang benar dianggap kaku.

Padahal, Bahasa Indonesia memiliki fungsi penting sebagai bahasa persatuan, bahasa pendidikan, dan bahasa ilmu pengetahuan. Fungsi-fungsi ini menuntut ketepatan, kejelasan, dan keteraturan bahasa.

Peran Generasi Muda

Generasi muda memegang peran kunci dalam menentukan arah perkembangan Bahasa Indonesia. Mereka adalah pengguna terbesar media sosial sekaligus agen perubahan bahasa. Kreativitas tentu perlu dihargai, tetapi harus diimbangi dengan kesadaran konteks.

Menggunakan bahasa gaul di media sosial bukanlah kesalahan, selama mampu membedakan kapan harus berbahasa santai dan kapan harus berbahasa baku. Di sinilah pentingnya literasi bahasa sejak dini.

Menjaga Keseimbangan

Bahasa Indonesia di era media sosial tidak harus “dipenjara” oleh aturan, tetapi juga tidak boleh kehilangan jati dirinya. Kreatif tanpa melupakan kaidah, santai tanpa menghilangkan makna—itulah keseimbangan yang perlu dijaga.

Media sosial seharusnya menjadi sarana memperkaya Bahasa Indonesia, bukan merusaknya. Dengan kesadaran bersama, Bahasa Indonesia akan tetap relevan, bermartabat, dan mampu menjawab tantangan zaman digital.


Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *